SELAMAT DATANG


Jumat, 12 Maret 2010

KEBERANIAN

Adalah ketakutan yang terukur. Setiap keberanian yang lahir adalah buah dari keberhasilan mengukur ketakutan dalam diri. Selalu ada potensi untuk gagal dalam setiap langkah yang akan diambil. Namun hanya dengan melangkah hasil menjadi sesuatu yang mungkin untuk diraih.
Jika ketakutan itu terukur, ia akan tetap melangkah seraya mensiasati segala resiko dengan strategi-strategi yang tepat.
Jika ketakutan gagal dikonfirmasi dengan keberanian dalam diri hingga ketakutan-ketakutan itu tidak terukur, orang tersebut hanya akan berjalan ditempat dan menutup kesempatan untuk meraih hasil lebih baik.
So, Go Ahead..!

Minggu, 28 Februari 2010

RENUNGAN

Siap atau tidak, suatu hari semuanya pasti akan berakhir. Tidak akan ada lagi matahari yang terbit, tidak ada menit, jam, ataupun hari. Semua materi yang kita kumpulkan, baik itu uang yang didapat ataupun hal yang bersifat fisik lainnya akan diteruskan ke orang lain. Kebahagiaan kita, ketenaran yang sesaat akan menghilang dan menjadi tidak berarti lagi. Sehingga tidak akan ada lagi segala sesuatu yang pernah kita miliki atau yang pernah kita kuasai.
Segala macam rasa dendam, dengki, iri, frustasi, dan juga rasa iri pada akhirnya akan hilang. Hal yang sama juga berlaku kepada harapan, ambisi, rencana, dan hal-hal lainnya yang kita inginkan, kesemuanya itu kemudian jadi tidak berlaku lagi. Kemenangan dan kekalahan yang pada awalnya menjadi sangat penting lalu segera memudar, lenyap dan mengilang.
Tidak berarti lagi darimana kita berasal atau disisi mana jalur hidup kita pada akhirnya.
Tidak berarti lagi apakah kita tampan atau brilian. Bahkan jenis kelamin dan warna kulit tidak lagi menjadi satu persoalan.
Jadi apakah yang berarti ? Bagaimanakah nilai dari hari kita diukur ?
Yang kemudian berarti adalah bukan apa yang kita beli namun apa yang kita bangun. Bukan apa yang kita dapat tapi apa yang kita berikan.
Yang kemudian berarti bukanlah kesuksesan kita namun keberartian kita.
Yang kemudian berarti adalah bukanlah apa yang kita pelajari namun apa yang kita ajarkan. Yang kemudian berarti adalah setiap tindakan dengan integritas, hati, keberanian, dan pengorbanan yang memperkaya, memperkuat ataupun mendorong orang lain untuk menyamai kita sebagai contoh dan menjadikan kita sebagai inspirasi. Yang kemudian berarti bukanlah kemempuan kita namun karakter kita.
Yang kemudian berarti adalah bukanlah seberapa banyak orang yang kita kenal, namun seberapa banyak yang akan merasakan kehilangan yang mendalam ketika kita pergi. Yang kemudian berarti bukanlah yang kita kenang namun kenangan tentang kita yang akan terus hidup pada mereka-mereka yang mencintai kita.
Yang kemudian berarti adalah seberapa lama kita akan didingat, oleh siapa dan bagaimana kita dikenang.
Menjalani kehidupan yang berarti tidak terjadi dengan sendirinya. Ini juga bukan mengenai keadaan namun ini mengenai pilihan. Mengenai pilihan untuk menjalani kehidupan yang berarti.

Sabtu, 20 Februari 2010

artikel

Berwawasan Internasional Berbudaya Lokal

Nanti aku dapati rumah-rumah Joglo yang tadinya kami tinggali, terpampang elok didepan kami. Tidak sebagai rumah singgah kami, tetapi sebagai gambar disampul buku kami, atau sekedar hiasan dirumah elite kami yang baru. Nanti kami akan pergi kenegara-negara Eropa untuk sekedar melihat Gamelan. Karena memang dinegara kami, Gamelan sudah hilang entah kemana. Nanti kami juga kehilangan hanacaraka kami, dan kami malah sibuk mencari bahasa orang lain. Bahkan nanti kami lupa siapa jati diri kami yang sebenarnya. Kami lupa, tanah yang mana yang telah menghidupi kami.
Tetapi dengarlah kawan, semua itu masih nanti. Kita bisa mengubah nanti kita menjadi lebih baik. Kita bisa mengubah mulai dari kini, dan bukan nanti. Mulai dari mana kawan…? Mulai dari diri kita. Kita orang Jogja, kita orang Jakarta, kita orang Papua, kita orang Batak, kita orang Kalimantan dan orang manapun kita, kita tetap Indonesia. Kenali Budaya Lokal kita. Biarkan budaya luar yang mengikuti kita, bukan kita yang mengikuti budaya luar. Toh, kita masih bisa berbahasa inggris tanpa kita meninggalkan bahasa Indonesia atau bahasa jawa. Kita bisa bermain band dipadukan dengan Gamelan. Kita bisa mengetahui sejarah dunia, tanpa harus meninggalkan bahasa kita. Kita ambil jalan tengah untuk yang terbaik, yaitu Berwawasan internasional Berbudaya lokal.
Jangan sampi kita merasa marah apabila ada salah satu kebudayaan kita diambil Negara lain, yang bahkan kita tidak merasa memiliki, menjaga, dan melestarikan kebudayaan kita.
So, save our culture save our soul…!

Sabtu, 13 Februari 2010

Puisi

Cahaya Bulan ( OST ‘GIE” )
Perlahan sangat pelan
Hingga terang kan menjelang
Cahaya kota kelam
Mesra menyambut sang petang

Disini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
Kenapa matahari terbit menghangatkan bumi
Aku orang malam yang membicarakan terang
Aku orang tenang yang yang menentang kemenangan oleh pedang

Perlahan sangat pelan
Hingga kadang kan menjelang
Cahayanya nyali besar
Mencuat runtuhkan baying

Disini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
Kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi
Aku orang malam yang membicarakan terang
Aku orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang

Cahaya bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah kutahu
Dimana jawaban itu
Bagai letusan berapi
Bangunkan ku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban
Kegelisahan hati

Terangi dengan cinta digelapku
Ketakutan melumpuhkanku
Terangi dengan cinta disesatku
Dimana jawaban itu..?

Cerita Teladan

ANAK KERANG
Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu pada ibunya. Sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.”anakku..” kata sang ibu dengan bercucuran air mata, ”..Tuhan tidak memberikan kita bangsa kerang sebuah tanganpun, sehingga ibu tidak bisa menolongmu. Sakit sekali anakku, aku tahu..! tapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat..!” kata ibunya dengan lembut.
Anak kerangpun melakukan nasihat bundanya, ada hasilnya tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang ditengah rasa sakitnya ia meragukan nasehat ibunya. Dengan air mata ia bertahan bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk, makin lama makin halus dan rasa sakitpun mulai hilang.
Akhirnya sesudah sekian tahun sebutir mutiara besar utuh mengkilap dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitannya berubah jadi mutiara, air matanya berubah jadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun lebih berharga dari pada sejuta kerang lainnya yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus dipinggir jalan.
Cerita diatas adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transcendental untuk menjadikan kerang biasa menjadi kerang luar biasa. Karena itu kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah orang biasa jadi luar biasa.
Banyak orang yang mundur saat dilorong transcendental tersebut, karena mereka tidak sabar dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan yang sebenarnya bisa mereka masuki, menjadi kerang biasa yang disantap orang atau menjadi kerang yang menghasilkan mutiara. Sayangnya banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang sukses lebih sedikit dari orang yang biasa-biasa saja.
Sahabat, mungkin saat ini kamu sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang disekitar kamu. Cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan dilorong tersebut dan sambil katakan didalam hatimu ”..air mataku diperhitungkan oleh Tuhan dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara-mutiara..”